immunology

Jalur molekuler histamin dan keterkaitannya dengan resiko asma

Histamin merupakan molekul endogen yang dihasilkan oleh sel mast dan memiliki reseptor yang tersebar di berbagai jaringan tubuh. Terdapat empat jenis receptor yang telah diketahui hingga saat ini, yaitu H1, H2, H3, dan H4. Histamin memiliki berbagai aktivitas biologis, antara lain sebagai mediator inflamasi (Marone et al., 1999), neurotransmitter yang mengatur aktivitas tidur, efek supresi terhadap zat asing yang masuk ke dalam tubuh (Yanai and Toshiro, 2007), serta yang paling penting adalah responnya terhadap allergen yang masuk dalam tubuh.

Alergen disebabkan oleh adanya respon imum terhadap materi asing dalam tubuh yang tidak berbahaya, misalnya debu atau paparan dingin. Materi tersebut kemudian membentuk antigen dan berinteraksi spesifik dengan limfosit, salah satunya sel mast. Ketika terjadi paparan pertama antigen pada sel mast, maka IgE akan berikatan dengan reseptor pada sel mast. Ketika ada allergen yang masuk lagi ke dalam tubuh, antigen akan berikatan dengan IgE pada permukaan sel mast dan memicu degranulasi sel mast serta keluarnya histamin (Janeway et al., 1999). Histamin yang lepas kemudian berikatan dengan reseptornya. Jika berikatan dengan reseptor H1, salah satu efek yang paling sering muncul adalah bronkokontriksi yang dapat berkembang menjadi asma. Histamin sendiri adalah salah satu penyebab utama terjadinya asma.

clip_image002

Gambar 2. Mekanisme degranulasi sel mast akibat paparan allergen yang menyebabkan keluarnya histamin dan memicu terjadinya reaksi alergi.

Reseptor H1 yang terdapat pada bronkus merupakan reseptor yang terkait protein Gq. Ketika ligan (histamin) berinteraksi dengan reseptor H1, protein Gq akan mengaktifkan protein fosfolipase C yang mengubah PIP2 menjadi DAG dan IP3. IP3 terlepas ke sitosol dan berikatan dengan reseptornya di reticulum endoplasma, memicu pelepasan Ca2+ dari reticulum endoplasma. Kenaikan kadar Ca2+ intraseluler ini yang akhirnya memicu kontraksi otot polos bronkus. Berikut adalah jalur molekuler yang terjadi (Gambar 3).

clip_image004

Gambar 3. Reseptor H1 yang merupakan reseptor terkait protein G. Ketika teraktivasi, serangkaian jalur molekuler terjadi dan akhirnya terjadi kontraksi otot polos, termasuk otot polos bronkus.

Mekanisme lain yang dapat terjadi adalah adanya peranan dari sel T imun. Beberapa sel T menginduksi terjadinya inflamasi untuk mengeliminasi benda asing yang masuk dan menyebabkan ketidakseimbangan dalam tubuh. Ketika terjadi asma, tubuh mengalami reaksi berlebihan dan hal ini berhubungan dengan peran sel T dalam mengeliminasi alergen penyebab asma (Tosca, et al., 2003; Howard, et al ., 2002; Ray, et al., 2000).

clip_image006

Gambar 4. Bagan di atas menunjukkan keterkaitan erat antara sistem imun, antara lain sel T, dengan aktivasi sel mast yang melepaskan mediator alergi histamin.

Beberapa jalur lain yang menginduksi lepasnya histamin dari sel mast menarik untuk dipelajari. Salah satunya terjadi pada wanita yang sedang berada dalam fase tinggi estrogen, seperti saat perimenstrual maupun mengonsumsi hormone replacement therapy (HRT). Estrogen, dalam konsentrasi fisiologis, ternyata mampu menginduksi lepasnya histamine dari sel mast. Konsentrasi derivat sel mast, yaitu leukotrien (LT), dalam darah meningkat secara signifikan pada wanita yang mengalami perimenstrual asma (PMA) dan antagonis reseptor (LT) dilaporkan dapat menurunkan simptom serta meningkatkan fungsi sistem pernafasan pada PMA (Nakasato et al., 1999). Aktivitsa molekuler estrogen pada sel mast diperantarai ERα yang terdapat pada membrane sel mast (non genomik) dan terkait dengan jalur protein G yang dapat melibatkan beberapa jalur tranduksi sinyal terkait flux Ca2+, dan modulasi mitogen-activated protein kinase (MAPK) dan adenilat siklase (Zaitsu et al., 2007).

Advertisements
course notes

Teknologi Fermentasi (Pendahuluan)

Curcol dulu, saya masuk kuliah ini baru 2 x dalam setengah semester, aaaaaaaaa X(
So I rewrite it! Bukan, bukan catatan kuliah saya tentu saja, tapi ringkesan handout kuliah ehehe ;p. Asing banget rasanya .__.
So, kita semua pasti dah pernah menggunakan produk hasil fermentasi. Makan tape, makan roti, makan brem, pake alkohol, bahkan dalam tubuh kita juga ada proses fermentasi. Menurut ahli biokimia, fermentasi adalah suatu proses pembentukan energi melalui katabolisme senyawa organik. Sedangkan menurut ahli mikrobiologi, fermentasi adalah proses pemanfaatan mikroba untuk menghasilkan produk. Tapi ternyata, gag selamanya proses fermentasi itu membutuhkan mikroba. Buchner (1897), membuktikan bahwa suatu proses fermentasi bisa terjadi hanya dengan adanya aktivitas enzim (fermentasi tanpa sel hidup)
Tujuan fermentasi yang digunakan dewasa ini, termasuk dalam dunia kefarmasian adalah :
1. Memproduksi sel mikroba atau biomassa
2. Memproduksi enzim
3. Memproduksi metabolit primer dan sekunder
4. Proses transformasi atau modifikasi senyawa yang ditambahkan secara eksternal
1. Produksi biomassa
yang telah dimanfaatkan secara luas adalah produksi ragi roti dan protein sel tunggal. Protein sel tunggal memiliki kelebihan, yaitu :
– mikroba cepat tumbuh dengan hasil yang tinggi
– kandungan protein mikroba tinggi
– protein mikroba tertentu mengandung semua asam amino esensial
– medium fermentasi murah
Mikroorganisme yang umum digunakan sebagai protein sel tunggal, antara lain algaChlorella, Spirulina, dan Scenedesmus; dari khamir Candida utylis; dari kapang berfilamen Fusarium gramineaum; maupun dari bakteri
2. Produksi enzim
Produktivitas mikroba dalam menghasilkan enzim dapat ditingkatkan dengan mudah dibandingkan dalam tanaman dan hewan. Telah banyak enzim yang dihasilkan melalui fermentasi, misalnya amilase, protease, pektinase.
3. Metabolit Primer dan Sekunder
produksi metabolit primer dan sekunder ini terkait langsung dengan siklus hidup (kurva pertumbuhan) mikroba dalam sistem tertutup seperti di bawah ini.
terlihat ada 4 fase penting dalam daur hidup mikroba. Lag phase atau fase adaptasi, merupakan fase dimana mikroba masih menyesuaikan diri dengan lingkungannya, misalnya ketika inokulum baru saja dipindahkan ke media baru. Pada fase ini tidak terligat adanya pertumbuhan mikroba, dan nutrisi (konstituen makro dan mikro) media sangat mempengaruhi lama fase lag ini. Semakin sesuai media dengan mikroba, semakin cepat fase lag. Ini yang dikehendaki oleh para fermentor, jadi fermentor harus tahu mikrobanya suka apa 🙂
Yang kedua adalah fase log, dimana kecepatan pertumbuhan sel secara bertahap naik pada waktu yang konstan dan terjadi kecepatan maksimum pertumbuhan sel. Selama fase log, komposisi makromolekul sel tetap konstan. Produk yang dikeluarkan dalam fase log ini antara lain asam amino, nukleotida, protein, lipid, karbohidrat (metabolit primer). Pengeluaran metabolit primer ini terjadi karena metabolit primer itulah yang digunakan untuk tumbuh selama fase log. Fase log disebut juga trophophase.
Fase ketiga adalah fase stationer/idiophase, dimana semua sel berhenti membelah diri atau bila sel hidup dan sel mati mengalami keseimbangan. Beberapa mikroba menghasilkan metabolit sekunder  pada fase ini, dimana metabolit sekunder tersebut tidak digunakan untuk metabolisme pertumbuhan mikroba penghasilnya. Banyak di antara metabolit sekunder yang memiliki aktivitas biologis misalnya antimikroba, penghambat enzim spesifik, dll. Setelah fase stationer, lalu fase kematian.
Nah, untuk memproduksi metabolit primer atau sekunder, fermentor perlu tahu berapa lama dan bentuk kurva pertumbuhan mikroba yang digunakan, sehingga dapat diketahui kapan waktu yang tepat untuk mengisolasi metabolit tersebut.
Setelah tahu tujuan fermentasi, nah apa saja sih komponen proses fermentasi?
1. Formulasi Media dari mulai media perkembangbiakan mikroba sampai tahap produksi
2. Sterilisasi media dan alat  mengingat fermentasi hampir semua menggunakan mikroba, harus selalu aseptis!
3. produksi biakan aktida dan murni dalam jumlah cukup untuk produksi
4. pertumbuhan organisme dalam media produksi dalam kondisi optimal untuk pembentukan produk
5. ekstraksi produk dan pemurnian
6. penanganan limbah produksi

my labwork

Sedikit belajar statistic penelitian in vivo (KOLMOGOROV SMIRNOV – ANOVA – TUKEY)

Alhamdulillah, pada program pkm kemarin, tim saya mendapatkan grant untuk melakukan penelitian in vivo, yaitu penelitian menggunakan hewan uji. Kami meneliti mengenai potensi ekstrak kulit jeruk purut (C. hystrix) sebagai agen kardio-hepatoprotektif pada tikus yang diberi obat kemoterapi doxorubicin. Tentu kalian sudah pernah mendengar bahwa obat kemoterapi menimbulkan berbagai efek samping, salah satunya adalah kerusakan jantung dan juga hepar, yang dapat menyebabkan kematian. Nah lho, orang ingin sembuh dari kanker, tapi efek sampingnya sebesar itu? Oleh karena itu, kami meneliti mengenai efek kulit jeruk purut sebagai pelindung hepar dan jantung dari pengaruh kemoterapi, walaupun penelitian ini masihlah penelitian pendahuluan J. Oke, cukup pengantar tentang penelitiannya hehe. Saya hingga saat ini lebih banyak belajar di in vitro dibandingkan dengan in vivo. Menurut saya, pengolahan data pada in vivo lebih rumit dan mempertimbangkan banyak faktor dibandingkan in vitro. Sedikit saya mengulas mengenai simulasi metode statistika yang tim kami gunakan untuk mengolah penelitian ini pada post saya kali ini.

Pada penelitian ini, kami mendapatkan data ALT dan AST, suatu enzim yang akan naik kadarnya dalam darah jika terjadi kerusakan hepar. Kami menggunakan 5 kelompok tikus, masing-masing 5 tikus sebagai data kami. Tapi, pada kenyataannya ada tikus yang mati juga. Berikut adalah pengelompokkan tikus :

1 : kontrol doxorubicin

2 : doxorubicin + EJP 500mg/kgBB

3 : doxorubicin + EJP 1000mg/kgBB

4 : control EJP

5 : control tanpa perlakuan

Berikut adalah data yang kami dapatkan

Kel         AST        ALT

1.0          180.1     56.3

1.0          183.4     70.0

1.0          183.7     60.0

1.0          179.8     56.1

1.0          181.2     53.1

2.0          179.8     45.3

2.0          181.9     46.5

2.0          175.3     47.9

2.0          176.4     48.0

2.0          177.1     47.3

3.0          145.5     43.4

3.0          146.7     43.0

3.0          147.5     42.3

3.0          141.5     44.5

4.0          100.5     20.3

4.0          100.2     21.6

4.0          99.6        17.5

4.0          98.7        18.4

5.0          102.3     15.6

5.0          103.4     16.0

5.0          104.3     15.9

5.0          101.2     15.75

5.0          100.4     15.7

*perhatikan pada kelompok 3 dan 4 hanya ada 4 tikus

Ini adalah jalur umum analisis statistic

Sumber : Modul statistika, Departemen LKPM BEM KMFA 2010

Langkah yang dilakukan :

  1. Buka SPSS (kami menggunakan versi 16.0)
  2. Masuk ke variabel view, masukkan data-data sesuai kolom (lihat contoh),
  3. tampilan variable view
 
   
  1. tampilan value
  2. Pada value perlakuan, masukkan data kelompok-kelompok perlakuan, masukkan nomor kelompok ke value dan deskripsi kelompok ke labelBuka data view, masukkan data penelitian

    tampilan data view
  3. Dalam statistic, dikenal  distribusi data normal dan tidak normal untuk menentukan jenis uji yang akan dilakukan, parametric atau non parametric (lihat bagan uji statistic sebelumnya). Untuk itu, digunakan uji kolmogorov smirnov

Cara :

Klik : analyze –> non parametric test –> 1-sample K S

Akan muncul kotak dialog seperti ini

                Masukkan parameter penelitian ke dalam kotak test variable list, klik options –> descriptive –> ok, klik ok pada kotak dialog ini, muncul output :


1. Jika probabilitas > 0,05; maka H0 diterima; maka distribusi sampel normal,Perumusan kesimpulan dari tes KS dengan tarafkepercayan 95% :

2. Jika probabilitas < 0,05; maka H0 ditolak; maka distribusi sampel tidak normal.

Atau lihat pada hasil output, sudah ditampilan bahwa distribusi data normal 🙂

Karena sudah mengetahui bahwa distribusi data normal, maka kami melanjutkan uji menggunakan statistika parametrik untuk mengetahui apakah ada perbedaan signifikan pada 5 kelompok perlakuan tersebut. Uji yang kami pilih adalah ANOVA ONE WAY karena terdapat lebih dari dua kelompok yang akan dibandingkan dengan menggunakan satu variabel (ALT/AST). Berikut adalah langkah-langkahnya

Pilih post hoc test HSD tuckey. Prosedur pengujiannya mirip dengan LSD, yaitu mempunyai satu pembanding dan digunakan sebagai alternatif pengganti LSD apabila kita ingin menguji seluruh pasangan rata-rata perlakuan tanpa rencana. Test ini yang paling powerfull untuk membedakan mean antar kelompok.

Hasil anova menunjukkan signifikansi 0.000 (< 0.05) yang berarti ada perbedaan signifikan di antara kelima kelompok.

 

Hasil tukey HSD ALT

Hasil ANOVA kadar AST

INTERPRETASI

Kadar ALT

Tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok 1 dengan 5 –> pemberian doxorubicin tidak meningkatkan kadar ALT secara signifikan

Ada perbedaan signifikan antara kelompok 1 dengan 2, tidak dengan 3 –> pemberian EJP menurunkan kadar ALT signifikan disbanding dengan hanya diberi doxo, tapi efeknya tidak meningkat seiring pemberian dosis tinggi

Ada perbedaan signifikan antara kelompok 4 dan 5 –> pemberian EJP menurunkan kadar ALT dibanding control

Kadar AST

Tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok 1 dengan 5 –> pemberian doxorubicin tidak meningkatkan kadar AST secara signifikan

Ada perbedaan signifikan antara kelompok 4 dan 5 –> pemberian EJP menurunkan kadar AST dibanding control

Perlu diingat, interpretasi hasil data ini sangatlah penting, oleh karena itu harus selalu dikonsultasikan dengan dosen pembimbing. Karena, jika salah interpretasi, kesimpulan yang ditarik pun akan salah. Mohon maaf jika contohnya kurang lengkap, ini baru berdasar pengalaman kemaren aja hehe. Semoga bisa mencoba uji-uji yang lain lagi nanti, dengan contoh yang relevan juga 🙂

cancer · molecular pharmacology

Review : Resistance Protein/ABCG2-Mediated Multidrug

Breast Cancer Resistance Protein (BCRP) atau ABCG2 adalah sebuah protein transporter yang termasuk dalam transporter ATP-binding cassette. BCRP memediasi multidrug resistance terhadap agen-agen kemoterapi antara lain SN-38, mitoxantron, dan topotecan melalui mekanisme efflux senyawa sitotoksik dari sel sehingga akan menurunkan efek sitotoksiknya. Substrat fisiologis dari BCRP ini sendiri adalah estrogen dan sulfated estrogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah senyawa fitoestrogen/flavonoid dapat membalikkan resistensi sel kanker yang diinduksi dengan gen BCRP.

Untuk mengetahui apakah fitoestrogen/flavonoid dapat meningkatkan sensitivitas sel kanker terhadap agen kemoterapi, dilakukan uji sitotoksik terhadap beberapa sel kanker, yaitu sel kanker K562/BCRP (mengekspresikan protein BCRP), K562/MDR (mengekspresikan P-glycoprotein), dan KB/MRP (mengekspresikan MRP1), kemudian dihitung reversal index. Reversal index genistein dan naringenin diketahui lebih kuat daripada estron, sedangkan flavonoid golongan flavon seperti  acacetin, apigenin, chrysin, diosmetin, dan luteolin serta flavonoid golongan flavonol seperti kaempferide dan kaempferol juga memperlihatkan efek reversal yang kuat. Naringenin-7-glukosida dan dan luteolin-4’-O-glukosida juga menunjukkan efek reversal yang cukup kuat, namun tidak dengan glikosida flavonoid yang lain. Namun efek reversal ini spesifik untuk sel kanker yang diinduksi gen BCRP karena baik genistein maupun naringenin tidak menunjukkan efek reversal pada sel kanker resisten yang dimediasi oleh P-glycoprotein maupun MRP1. Selain itu, perlakuan flavonoid juga tidak meningkatkan efek sitotoksik sel K562 normal.

Western blot dilakukan untuk mengetahui apakah peningkatan sensitivitas sel terhadap agen kemoterapi disebabkan oleh inhibisi ekspresi BCRP atau melalui penghambatan fungsi BCRP. Setelah diinkubasi dengan flavonoid selama 5 hari, jumlah BCRP yang diekspresikan oleh K562/BCRP ternyata sama dengan kontrol K562 sehingga hasil ini mengindikasikan bahwa flavonoid tidak menginhibisi ekspresi BCRP tetapi meningkatkan sensitivitas sel kanker dengan menghambat fungsi BCRP.

Akumulasi agen kemoterapi di dalam sel kanker diuji untuk mengetahui apakah efek reversal sel kanker resisten BCRP terkait dengan inhibisi mekanisme efflux senyawa sitotoksik dari dalam sel. Akumulasi intraseluler topotecan dalam K562/BCRP meningkat setelah diberi perlakuan genistein dan naringenin dan peningkatan sensitivitasnya seiring dengan kenaikan dosis. Sedangkan pada kontrol K562, peningkatan dosis genistein dan flavonoid tidak meningkatkan akumulasi topotecan intraseluler. Hal ini mengindikasikan bahwa flavonoid membalikkan resistensi dengan meningkatkan jumlah agen kemoterapi pada sel kanker yang mengekspresikan BCRP.

Penting mengetahui apakah flavonoid yang diberikan kemudian menggantikan agen kemoterapi untuk di-efflux keluar sel sehingga dalam penelitian ini juga dilakukan uji transport transselular flavonoid ([3H]genistein) pada sel LLC/BCRP. Transport basal-to-apical (sekresi) mitoxantron lebih tinggi pada LLC/BCRP daripada LLC/PK1 sedangkan transport apical-to-basal (reabsorbsi) mitoxantron pada LLC/BCRP lebih rendah. Hal ini menyebabkan akumulasi genistein dalam LLC/BCRP lebih rendah daripada dalam LLC/PK1. Selanjutnya [3H] genistein yang terakumulasi di bagian apical sel LLC/BCRP dan LLC-PK1 dianalisis menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) untuk mengetahui apakah [3H]genistein dimetabolisme terlebih dahulu sebelum disekresikan keluar sel. Setelah inkubasi selama 4 jam, diketahui LLC/BCRP mensekresikan [3H] genistein lebih banyak daripada LLC-PK1. Dari hasil KLT, hampir seluruh [3H] genistein disekresikan dalam bentuk utuhnya (belum termetabolisme) pada sel LLC/BCRP sedangkan pada sel LLC-PK1 ditemukan metabolit selain  [3H] genistein utuh sehingga dapat disimpulkan bahwa [3H] genistein langsung ditarnsportasikan keluar sel oleh sel kanker resisten BCRP.

BCRP memediasi resistensi sel kanker melalui mekanisme efflux agen kemoterapi yang akan menurunkan jumlahnya dalam sel sehingga menurunkan efek sitotoksiknya. Flavonoid dapat menjadi substrat palsu BCRP sehingga dapat meningkatkan sensitivitas sel kanker resisten BCRP secara efektif. Mekanisme substrat palsu ini dapat dibuktikan dari kenaikan akumulasi intraselular agen kemoterapi serta kenaikan transport basal-to-apical (sekresi) flavonoid pada sel kanker resisten BCRP.

Referensi :

Imai, Y., Tsukahara S., Asada S., Sugimoto Y., 2004, Resistance Protein/ABCG2-Mediated Multidrug Resistance Phytoestrogens/Flavonoids Reverse Breast Cancer, Cancer Res 2004;64:4346-4352

http://cancerres.aacrjournals.org/content/64/12/4346.full.pdf

molecular pharmacology

GPCR 2 – Muskarinik dan Adrenergik

Nah, setelah review GPCR tadi, ada 2 kelompok reseptor yang kemaren dibahas di kelas, yaitu reseptor asetilkolin muskarnik dan reseptor adrenergik. Kedua reseptor ini tentu sudah gag asing buat kita, karena banyak sekali obat yang memiliki target pada reseptor ini.
1. reseptor asetilkolin muskarinik
kayak di postingan saya yang sebelumnya, reseptor setilkolin dibagi menjadi 2, yaitu nikotinik dan muskarinik. Reseptor muskarinik sendiri ada 5, yaitu M1,M1,M3,M4,M5.  Salut deh sama ilmuwan-ilmuwan yang getol nyari ampe sebanyak ini, makasih bapak bapak ibu ibu sekalian atas tambahan pelajaran yang harus kami pahami .__. haha :p
M1
Reseptor ini terkait dengan Gq (jalur fosfolipase). Banyak terdapat di cortex, hippocampus, dan ganglia simpatik. Karena terdapat di otak, memainkan peranan penting dalam fungsi kognitif dan memori. Jalur fosfolipase tadi menyebabkan meningkatnya Ca intrasel sehingga meningkatkan aktivitas sel saraf. Pengembangan obat terkait dengan reseptor M1 ini adalah terkait penyakit alzheimerAgonis M1 akan menghambat pembentukan plak amyloids (suatu plak yang menutupi sel saraf otak sehingga menghambat transmisi sinyal saraf).
M2
terhubung dengan Gi. Banyak terdapat di jantung, CNS, dan otot polos, sehingga memiliki efek fisiologis pada penurunan kecepatan denyut jantung dan regulasi suhu tubuh. Kenapa bisa menurunkan denyut jantung? Nah kan dia terkait dengan Gi, dimana subunit alfa Gi itu menurunkan kadar cAMP sehingga akan menurunkan frekuensi denyut jantung. Sedangkan subunit beta dan gamma dari Gi akan mengaktifkan kanal kalium, kalium masuk ke sel, terjadi hiperpolarisasi sehingga kadar Ca intrasel menurun, dan akan menurunkan kontraksi otot jantung. Blokade M2 menyebabkan takikardi dan palpitasi (penguatan kontraksi otot jantung). Jadi, untuk obat hipertensi, dikasih antagonis apa agonis hayooo? Agonis dong :).
M3
terhubung dengan Gq dan distribusinya luas, ada di saliva, bronkus, kelenjar eksokrin, saluran gastrointestinal, mata, lambung. Karena mengaktivasi jalur fosfolipase, efeknya pun menimbulkan kontraksi di tempat-tempat reseptor tersebut berasa. Misalnya, jika terjadi M3 di mata di-blok, akan terjadi gangguan visual. Jika di saluran GI yang di-blok akan memperlambat waktu transit makanan di usus karena motilitas dikurangi, bisa juga terjadi konstipasi. Tapi kalo digunakan antagonis M3 yang spesifik untuk bronkus, bisa jadi obat asma karena M3 memediasi bronkokontriksi. Atau kalo antagonis M3 spesifik untuk kandung kemih, bisa jadi obat anyang-anyangen 🙂 *boso indonesianya apa ya? nek boso inggris : overactive bladder, well .__.*

M4
terkait Gi dan banyak terdapat di otak (neostriatum). Bertugas mengatur keseimbangan kolinergik dan dopaminergik, serta mengatur analgesia. Hmm, info tentang ini kok gag terlalu banyak ya .__. Ntar ditambahin lagi deh
M5
masih jarang diteliti :(. Terkait dengan Gq dan mengatur pelepasan dopamin juga.

aktivasi M1
http://www.cnsforum.com/imagebank/item/Rcpt_sys_mus_ag/default.aspx
2. reseptor adrenergik
Siapa yang lagi jatuh cinta hayoooo? Apa hubungannya deh yon :p. Eh ada lho ini, ternyata perasaan ‘deg-degan’ saat ketemu orang yang -ehem- disukai, terkait dengan reseptor adrenergik ini, haha :D. Jadi ketika ada stimulan, misalnya tadi itu, ketemu orang yang disukai, maka akan memicu keluarnya hormon adrenalin (epinefrin) dari kelenjar adrenal. Nah epinefrin tadi akan berinteraksi dengan reseptor adrenergik dan menghasilkan efek-efek fisiologis, misalnya deg-degan, muka jadi pucat *ehehe curhat, loh :p*. Yuk di-review ada reseptor apa aja di bagian ini 🙂
alfa adrenergik 1 (alfa1)
terkait dengan Gq (jalur fosfolipase) dan akan memobilisasi Ca. Banyak terdapat di otot polos organ-organ, liver, saliva. Efek yang dihasilkan adalah eksitabilitas neuron (maksudnya aktivasi sel saraf), vasokontriksi, bronkokontriksi, glikogenolisis (dah banyak direview di depan tadi lah ya gimana mekanismenya :)). Nah, kalo aktivasinya berlebihan, akan menyebabkan hipertensi (karena terjadi vasokontriksi yang berlebihan). Oleh karena itu, digunakan antagonis alfa1 misalnya prazosin, doksazosin sebagai obat antihipertensi.
alfa adrenergik 2 (alfa2)
terkait Gi (inhibisi adenilat siklase) dan terdapat di ujung saraf, pembuluh darah, ginjal, dan otak. Selain itu juga mengatur pelepasan neurontransmitter NE selanjutnya (autoreseptor). Mekanisme autoreseptornya?

alfa 2 di presinaptik diaktivasi oleh NE –> membuka kanal Kalium –> hiperpolarisasi –> menghambat influks Ca –> karena gag ada Ca, gag ada yang melepaskan neurotransmitter dari presinaptik –> efek autoreseptor

agonis alfa2 digunakan sebagai obat antihipertensi, misalnya klonidin. Agonis –> menurunkan cAMP+membuka kanal kalium –> menurunkan Ca –> mencegah kontraksi jantung (tolong dikoreksi ya yang baca, agak gag yakin ini .__.)
beta adrenergik 1 (beta1)
terutama terdapat di jantung dan terkait dengan Gs, meningkatkan Ca intrasel, dan efeknya adalahpeningkatan kontraksi jantung. Oleh karena itu, antagonis beta1 digunakan sebagaiantihipertensi. Tapi agonis beta1 kadang juga dibutuhkan loh, misalnya ketika ada pasien yang mengalami shock sehingga tekanan darahnya drop, maka diberi agonis beta1 untuk meningkatkan kekuatan jantung. Oia, efek deg-degan kayak crita di awal tadi juga dimediasi oleh reseptor ini, haha 😀
beta adrenergik 2 (beta2)
terdapat di otot polos organ, liver, sel mast, otot rangka dan terkait dengan Gs. Efeknya adalah bronkorelaksasi, vasodilatasi, tremor, glikogenolisis, dan menurunkan pelepasan histamin. Jujur saya agak bingung awalnya, kenapa dia meningkatkan cAMP tapi menyebabkan dilatasi?? ternyata peningkatan cAMP gag selalu meningkatkan Ca intraseluler, tapi pada bronkus dan vaskuler, justru menyebabkan dilatasi karena cAMP menurunkan interaksi aktin myosin. Oleh karena itu, agonis beta2 (yang terkenal : salbutamol), menjadi obat asma.
beta adrenergik 3 (beta3)
Terkait dengan Gs dan Gi sekaligus *wow*, dan banyak terdapat di jaringan adiposit (lemak). Belum banyak dibahas tapi pengembangan obatnya terkait dengan metabolisme lemak, bahkan dikembangkan menjadi obat ‘diet lemak’, wah butuh nih :p
mekanisme aktivasi beta2
Luar biasaaaa 😀
itu baru review beberapa, yang dah umum banget pula .__. Begitu indah setiap yang ada di tubuh kita, nikmat manakah yang bisa kita dustakan? 😉
Posted 19th January by 
Labels: pharmacy belajar
molecular pharmacology

GPCR – 1

aktivasi protein G
GPCR ini merupakan suatu reseptor yang terdapat pada membran sel. Sebagian besar reseptor dalam tubuh kita termasuk GPCR, sehingga fungsi fisiologis dari reseptor ini besar sekali dalam tubuh kita.  Reseptor ini terikat dengan protein G yang akan memnghubungkan reseptor ini dengan enzim/ kanal ion yang menjadi target, dengan jalan mengaktivasi rangkaian peristiwa yang mengubah konsentrasi satu/lebih suatu molekul signaling intraseluler/2nd messenger sehingga menghasilkan respon selular. Terdapat 2 jalur transduksi sinyal, yaitu jalur adenilat siklase dan jalur fosfolipase.
jalur adenilat siklase
Reseptor yang terkait dalam jalur ini ada 2, yaitu Gs (stimulasi) dan Gi (inhibisi). Yang distimulasi dan diinhibisi apa? ya enzim adenilat siklase :p. Enzim ini berperan dalam mengubah ATP menjadi cAMP. Berikut jalur transduksi sinyalnya. Oia, dalam keadaan inaktif, reseptor ini mengikat GDP, sedangkan dalam keadaan aktif mengikat GTP.
Gs

ligan berikatan dengan reseptor Gs –> perubahan konformasi –> GDP digantikan dengan GTP –> subunit alfa dari G protein terdisosiasi –> mengaktifkan adenilat siklase –> cAMP naik

nah, si cAMP itu punya beberapa fungsi. Yang pertama adalah mengaktifkan PKA (protein kinase A) yang akan meregulasi protein-protein lain, bermuara pada transkripsi gen. Bisa juga memicu glikogenolisis sehingga kadar glukosa naik. Pada otot polos, cAMP menghambat MLCK (myosin light chain kinase) sehingga menyebabkan relaksasi (misalnya pada bronkus)
Gi
Kebalikan dari Gs, Gi menginhibisi adenilat siklase sehingga cAMP menurun. Reseptor Gi (subunit beta dan gamma) biasanya juga terkait dengan kanal K, yang akan terbuka dan menyebabkanhiperpolarisasi.
salah satu jalur adenilat siklase, ini aktivasi yang menyebabkan glikogenolisis, hayo yang diaktifkan Gs apa Gi?
Oia, si adenilat siklase ini gag boleh teraktivasi terus menerus karena bisa menyebabkan berbagai penyakit. Misalnya, toksin dari bakteri penyebab TBC, menyebabkan subunit alfa Gs teraktivasi terus, sehingga terjadi  batuk yang kronis. Salah satu mengurangi kadar cAMP adalah dengan diurai menggunakan enzim fosfodiesterase.
Jalur Fosfolipase
Yang terkait dengan jalur ini adalah Gq. Mekanismenya sampai subunit alfa terdisosiasi sama dengan 2 protein G lainnya. Selanjutnya subunit alfa akan mengaktifkan fosfolipase yang mengubah PIP2 (fosfatidil inositol difosfat) menjadi IP3 (inositol trifosfat) dan DAG (diasilgliserol). IP3 akan berikatan dengan reseptornya di RE sehingga membuka kanal Ca, Ca masuk ke sitoplasma. Sedangkan DAG akan berinteraksi dengan Ca tersebut dan mengaktifkan PKC yang memicu transduksi sinyal selanjutnya. DAG juga dapat diubah menjadi asam arakidonat. Efek yang khas dari aktivasi Gq ini adalah peningkatan kontraksi, karena berkaitan dengan peningkatan Ca intraselular.
salah satu reseptor Gq, reseptor angiotensin
pharmaceutical analysis

Shampoo 2 in 1, efektif?

Kemaren waktu ikut kuliah anfar, ceritanya lagi mbahas tentang analisis bahan-bahan dalam kosmetik, khususnya sabun dan shampoo. Pernah gag sih lagi di kamar mandi, gag ada kerjaan trus merhatiin bagian label shampoo atau sabun, dan melihat nama-nama senyawa aneh njlentrek di sana? Well, ternyata emang ribet banget mau bikin sebuah shampoo atau sabun dengan busa yang melimpah, wangi, dengan daya bersih yang oke. Butuh riset tingkat tinggi lah, gag asal campur *ya iyalah yooon*. Nah, sebenernya apa bagian paling penting dari sabun atau shampoo?*dan pembersih-pembersih lainnya*

struktur umum surfaktan
sumberl
Ada suatu golongan senyawa namanya surfaktan. Nah si surfaktan ini punya keunikan, dia punya bagian yang suka air (hidrofil) dan bagian yang suka lemak (lipofil). Karena keunikannya ini, dia digunakan sebagai pembersih. Kenapa begitu? Karena kotoran-kotoran yang nempel di tubuh kita kan sifatnya berlemak, jadi kalo cuma dibilas pake air susah ilang. Dengan bantuan surfaktan, sisi lipofilnya akan mengikat kotoran, sedangkan sisi hidrofilnya mengikat si air sehingga ketika dibilas, kotoran bakal terbawa oleh air. Tadaaa! Badanpun jadi bersih.
Tapi ada kekurangannya juga nih. Surfaktan belum bisa bedain mana lemak yang jadi kotoran di kulit kita, mana yang memang dihasilakn tubuh untuk menjaga kelembaban kulit. Akibatnya, lemak baik pun kebanyakan ikut kebawa saat kita membersihkan tubuh, kulit jadi kering deh. Makanya jangan rajin-rajin mandi! 😀 *ini kesimpulan yang aneh haha*. Bukan ding, makanya sering-sering pake pelembab, khususnya cewek-cewek nih 🙂
begini cara si surfaktan bersihin kotoran di kulit
sumber
Begitu juga dengan rambut, biar gag kering, pake conditioner. Di iklan sering kan denger slogan shampoo 2 in 1 atau 3 in 1, dimana shampoo ama conditioner dah jadi dalam 1 botol, jadi cuma sekali pake doank. Praktis kan? Tapi efektifkah? Sebenernya gag efektif loh, karena kan shampoo bakal ngilangin lemak-lemak dari rambut kita, sedangkan conditioner bakal melapisi rambut kita dengan lemak yang baik, sehingga kelembabannya bakal tetap terjaga. Sehingga pemakaiannya yang tepat ya pake shampoo dulu, baru pake conditioner. Nah, kalo pemakaiannya dijadiin satu gimana? Otomatis lemak baik yang dibawa ama conditioner bakal kebawa ama surfaktannya shampoo dong, gag nempel di rambut, gag efektif kan?
Yeah, yang ribet kadang emang lebih baik 😀
*gag nyambung haha
\