Apotek WIPA : Contoh Sukses Apotek “Patungan”

“Saya heran, kenapa sekarang apoteker-apoteker muda enggan mendirikan apotek?”

Pertanyaan Bu Endang, APA (Apoteker Penangung jawab Apotek) pembimbing PKPA kami, membuat sekitar 10 anak berpandangan. Pagi ini kami melakukan briefing perdana untuk memulai kegiatan PKPA (Praktek Kerja Profesi Apoteker) di Apotek WIPA. Pertanyaan tersebut, rata-rata memberikan jawaban yang sama dari kami.

Ingin Bu, tapi belum ada modal..”

Saya rencananya kerja di tempat lain dulu Bu, ngumpulin modal buat buka apotek..”

Hmm..saya dulu masuk farmasi bukan karena ingin buka apotek Bu, saya lebih tertarik ke BPOM atau penelitian..” *ini jawaban saya.haha*

Dan dimulailah cerita panjang Bu Endang bagaimana Apotek WIPA dapat berdiri hingga saat ini. Apotek WIPA ternyata berdiri bukan atas modal seseorang, tetapi modal “patungan” 9 orang apoteker pada tahun 1979. Untuk legalitasnya, 9 orang pemilik modal ini mendirikan CV WIPA, dimana Bu Endang yang saat itu merupakan apoteker termuda dan baru saja lulus kuliah, menjadi direksi dan APA apotek WIPA. Saat itu, untuk membuka apotek dibutuhkan modal 15 juta rupiah. Bentuk ‘patungan’-nya berupa saham prioritas dan non-prioritas. Semacam koperasi, saham prioritas adalah ‘urunan wajib’ sementara saham non-prioritas adalah ‘urunan sukarela’, yang kemudian juga akan berpengaruh kepada pembagian keuntungan apotek. Saham prioritas-nya sebesar 1 juta rupiah, yang saat itu setara dengan sebuah motor. Melalui perjuangan bersama dan keuletan, akhirnya apotek WIPA dapat bertahan hingga saat ini (>34 tahun). Hingga saat ini, ke-9 pemilik modal masih terus menginvestasikan dana di Apotek WIPA. Bahkan walaupun sudah ada yang meninggal, investasi tetap dilanjutkan oleh ahli warisnya. Manajemen yang dikelola terbuka dan bersifat kekeluargaan, dimana setiap tahun selalu ada rapat untuk membahas pengembangan apotek ke depannya serta pembagian keuntungan.

Metode “patungan” ini terus dikembangkan oleh Bu Endang. Melalui pengumpulan modal ini, saat ini Bu Endang memiliki “saham” di 6 apotek, tidak hanya di Jogja. Karena sudah dikenal dan dipercaya oleh sejawat apoteker, Bu Endang menginisiasi terbentuknya ‘koperasi simpan pinjam’ yang bertujuan untuk membantu apoteker mencari modal untuk mendirikan apotek. Saya rasa untuk teman-teman yang benar-benar memiliki passion berpraktek di apotek, wajib banget diskusi dengan Bu Endang terkait solusi per-modal-an dan lain-lain. Walau baru 2 hari PKPA di apotek-apotek beliau, tapi saya lihat sistem administrasi di apoteknya sangat rapi dan teliti. Mungkin hal ini yang menjadikan manajemen apoteknya bisa selalu terbuka dan dipercaya oleh sejawat apoteker. Pesan beliau di akhir diskusi : “Bangun kepercayaan, karena jika sudah ada kepercayaan, maka hal-hal akan selalu dimudahkan.”

Advertisements

2 thoughts on “Apotek WIPA : Contoh Sukses Apotek “Patungan”

  1. Jadi inget dulu masa-masa di “sekolah” farmasi. hehe.
    Ketika zaman itu kurang lebih tahun 2008, dimana apotek k24 (franchise) menjadi isu yang sangat hangat. Berbagai macam pro dan kontra dan berbagai macam diskusi di beberapa univ diselenggarakan. Namun, seiring berjalannya waktu, isu itu memmudar dan bendera K24 tetap berkibar. “eh iya ga siy? masih ada toh k24? atau sudah ada k25,26,27, dst?”

    Berbeda dengan apotek WIPA, yang belum pernah terdengar (paling tidak masa itu) dikalangan mahasiswa (sebelum PKPA tentunya) atau bahkan belum pernah di seminarkan.

    Tanya kenapa?

    • haha iya masi ada k24, bahkan yang punya sempet sharing kisah sukses apoteknya di pembekalan wisuda kemaren 😉

      iya tanya kenapa ya?
      mungkin bisa jadi masukan untuk pihak fakultas, menghadirkan sosok2 sukses di apotek untuk memberi kuliah tamu kepada mahasiswa, misalnya waktu p2smb, kuliah umum peminatan
      biasanya yang datang dari industri saja soalnya.. atau ketika kuliah umum pun seingatku lebih fokus ke masalah pelayanan di apotek saja, dari sisi manajemen blm diulas..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s