Resistensi antibiotik, separah apa sebenarnya?

Info baru tentang resistensi antibiotik ini saya dapatkan dari online course yang terdapat di futurelearn.com. Online course ini disediakan oleh Uppsala University dengan konten yang menurut saya cukup menarik dan mengajak pembacanya untuk berdiskusi di beberapa bagian. Silakan buka link ini jika tertarik untuk mengikuti online course-nya.

Screen Shot 2016-10-07 at 16.19.08.png
source

Pasti banyak di antara kita yang sudah mendengar mengenai resistensi antibiotik ini, baik dari tenaga kesehatan yang kita temui maupun dari media massa. Artikel terbaru dari media di Indonesia yang saya temukan adalah artikel di Kompas ini, yang mengungkapkan bahwa setiap tahun terdapat 135.000 kematian per tahun akibat resistensi antibiotik. Berdasarkan data Kemenkes RI yang diterbitkan dalam Buletin Jendela, Data dan Informasi, terdapat 98.692 kasus kanker serviks dan 61.682 kasus kanker payudara pada tahun 2013 (saya belum menemukan data kematian akibat kanker, maupun data tahun 2015). Hal ini menunjukkan bahwa resistensi antibiotik diam-diam menjadi penyakit yang lebih membahayakan dibanding dengan kanker.

Resistensi antibiotik ini adalah masalah sedunia. Berbagai negara telah melaporkan insidensi resistensi antibiotik di negara mereka yang bisa kita akses di web resistance map yang dikembangkan oleh Center for Disease Dynamics, Economics & Policy (CDDEP). Saya cuplikan gambar yang menunjukkan resistensi bakteri E.coli terhadap obat golongan fluoroquinolon (contoh obat: ciprofloxacin, sering dengar?). Di India, resistensi E.coli terhadap antibiotik ini mencapai 84%, di Thailand 45%, di Vietnam 50%, di Indonesia? Sayang sekali Indonesia belum memasukkan datanya ke ke database ini. Di website ini, kita juga bisa mengetahui tingkat resistensi bakteri lain terhadap berbagai jenis obat pula.

Screen Shot 2016-10-07 at 16.44.17.png
source

Alexander Fleming, sang penemu antibiotik, telah memprediksikan terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotik semenjak beliau menemukan obat ini. Saat ini, resistensi antibiotik sedang terjadi, bukan hanya sekedar prediksi lagi. Luka kena pisau, luka jatuh, maupun berbagai penyakit infeksi lain bisa saja membahayakan nyawa ketika bakteri yang masuk ke tubuh kita telah resisten terhadap berbagai antibiotik.

Screen Shot 2016-10-07 at 16.54.43.png
source

Sekali lagi, saya menulis ini juga untuk mengingatkan diri sendiri terhadap beberapa hal. Pertama, jangan ‘manja’ dengan antibiotik. Demam sedikit ke dokter lalu minta antibiotik, begitu pula dengan radang tenggorokan atau penyakit-penyakit yang sebenarnya masih dapat ‘diperangi’ oleh sistem imun kita. Beberapa waktu lalu saya mendapat kiriman video ini dari teman saya, yang menunjukkan bahwa pemberian antibiotik terhadap penyakit-penyakit tertentu bisa saja tidak membantu banyak penyembuhan pasien. Sebagai pasien, tanyakan pada dokter apakah kita benar-benar akan mendapatkan manfaat drastis dari antibiotik yang diresepkan? Atau bisa kah keadaan kita cukup diatasi dengan obat-obat yang membantu meredakan gejala infeksi?

Kedua, habiskan antibiotik yang diberikan walaupun keadaan tubuh kita sudah membaik (klise ya ini hehe).

Ketiga, jangan gunakan antibiotik ‘sisa’ orang lain (seharusnya sih tidak ada sisa kalau mengikuti hal yang di atas). Antibiotik bukan obat pusing atau obat batuk yang bisa menjadi obat bersama keluarga. Dosisnya sudah diatur dengan cermat untuk pemberian satu orang saja selama waktu tertentu.

Keempat, jangan beli antibiotik sembarangan!

Sekian cerita kali ini, silakan kalau ada teman-teman yang ingin menambahkan informasi.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s