course notes

Mini Review : Interaksi Obat

Fase Absorbsi

BA/Aktivitas naik

Penyebab

Mekanisme

Ketokonazol, griseofulvin, kebanyakan antifungi Makanan Makanan meningkatkan kelarutan ketokonazol (lipofilik)
Karbamazepin, diazepam, dikumarol, meoprolol, prapranolol, nitrofurantoin Makanan Peningkatan level obat
Semua obat Metoklopramid, reserpin,antikolinesterase na bikarbonat Peningkatan kecepatan pengosongan lambung –> onset cepat, hati2 TOKSIK

  Continue reading “Mini Review : Interaksi Obat”

Advertisements
cancer · course notes

Ringkasan : Clinical Relevance of Drug–Drug and Herb–Drug Interactions Mediated by the ABC Transporter ABCB1 (MDR1, P-glycoprotein)

Fungsi Farmakologi dan Toksikologi

  • Pgp adalah protein membran plasma yang dapat menyebabkan multidrug resistance (MDR) melalui pengeluaran senyawa-senyawa xenobiotik dari dalam sel –> menyebabkan resistensi pada beberapa kanker
  • Pgp menghambat uptake seluler obat pada otak, plasenta, testis dan menghambat transport obat dari lumen intestinal ke sel epitel.
  • Pgp memediasi ekskresi obat keluar hepatosis menuju canaliculi empedu dan keluar ginjal menuju urin
  • Pemberian obat yang merupakan substrat dan senyawa inhibitor Pgp secara bersamaan –> memodifikasi farmakokinetik obat dengan meningkatkan bioavailability dan uptake seluler –> menyebabkan ADR dan toksisitas
  • Pemberian obat yang merupakan substrat dan senyawa inducer Pgp secara bersamaan –> penurunan level obat di plasma –> subterapeutik
  • Lokalisasi Pgp di plasenta berperan penting dalam melindungi janin dari paparan senyawa berbahaya –> inhibisi Pgp pada ibu hamil harus diperhatikan karena dapat menyebabkan toksisitas pada ibu hamil

Continue reading “Ringkasan : Clinical Relevance of Drug–Drug and Herb–Drug Interactions Mediated by the ABC Transporter ABCB1 (MDR1, P-glycoprotein)”

course notes · molecular biology

Siklus Sel

Subhanallah, untuk melakukan fungsinya dengan baik dan benar, setiap hari tubuh kita melakukan regenerasi dan regenerasi terjadi dari sel-sel yang membelah. Untuk melakukan pembelahan tersebut, ada tahapan yang selalu dilalui oleh sebuah sel tubuh kita, yaitu siklus sel. Apa saja sih yang sebenarnya terjadi dalam proses siklus sel tersebut? Mari kita lihat satu persatu 🙂

Apa saja yang terlibat dalam proses siklus sel?

Untuk memastikan bahwa siklus sel terjadi dengan baik dan dengan semesetinya, tentu diperlukan regulator siklus sel, yaitu berbagai jenis protein, antara lain :

1. Cyclin (cyc D,E,A,B), konsentrasi cyclin ini berubah-ubah setiap siklus sel, kecuali cyclin D yang selalu diekspresikan selama ada stimulasi growth factor (konstitutif)

2. Cyclin-dependent kinases (Cdk), terutama Cdk 4,6,2,1. Cdk akan berikatan dengan cyclin sehingga teraktivasi dan memacu proses downstream dengan memfosforilasi protein spesifik. Konsentrasi Cdk relatif tetap selama siklus sel dan hanya akan diaktifkan oleh cyclin.

3. Cyclin-dependent kinase inhibitor (CKIs) adalah protein yang dapat menghambat aktivitas Cdk dengan mengikat Cdk atau kompleks Cdk-Cyc. Ada 2 jenis CKI :

a. INK4 (p15, p16, p18, dan p19) : membentuk kompleks yang stabil dengan Cdk sehingga Cdk tidak mengikat cyclin, juga mencegah progresi fase G1.

b. CIP/KIP (p21, p27, p57) : regulasi fase G1 dan S dengan menghambat kompleks G1 cyclin-Cdk dan cyclin B-Cdk1.

Bagaimana proses yang terjadi di dalam siklus sel?

Terdapat serangkaian proses yang rumit dalam siklus sel, yang diatur oleh regulator seperti tersebut di atas. Berikut adalah proses yang terjadi :

1. Sel masuk ke fase G1 dari fase G0 (quiescent) akibat adanya stimulus growth factor

cyciln D mengaktifkan Cdk4 dan atau Cdk 6 –> kompleks Cdk4/6 dan cycD memfosforilasi protein retinoblastoma (pRb) –> fosforilasi menyebabkan fungsi histon deasetilase (hdac) terganggu –> struktur DNA longgar –> faktor transkripsi yang diikat oleh pRb lepas –> terjadi transkripsi E2F responsive genes yang dibutuhkan sel untuk masuk ke dalam fase S (antara lain gen cycE, cycA, dan Cdc25) (Satyanarayana and Kaldis, 2009)

2. Transisi G1 ke S (G1/S)

Cdk2 aktif dan mengikat cycE –> menyebabkan hiperfosforilasi pRb –> proses transripsi yang dipacu E2F aktif dan checkpoint fase G1/S terlampaui –> cycA ditranskripsi

Cdk2-cycE juga memfosforilasi p27 sehingga p27 terdegradasi

3. Sel masuk dalam fase S

Ketika masuk fase S, cycE didegradasi dan Cdk2 bebas mengikat cycA –> fosforilasi protein yang dibutuhkan dalam replikasi DNA –> di akhir fase S, cycA melepas Cdk2 dan mengikat Cdk1/Cdc2

4. Sel masuk fase G2

kompleks CycA-Cdk1 memfasilitasi kondensasi kromatin yang dibutuhkan untuk penggandaan sel, pada fase ini sel juga memiliki mekanisme repair jika terjadi kesalahan sintesis DNA

5. Sel masuk fase mitosis

cycA didegradasi, terjadi peningkatan ekspresi cycB yang akan mengikat Cdk1 –> kompleks cycB-Cdk1 memacu mitosis dan mengontrol rearrangement mikrotubulas selama mitosis –> pada akhir fase mitosis, cycB didegradasi oleh anaphase promoting complex (APC) melalui proses proteolitik yang juga berfungsi memacu kromatid melakukan anafase (pemisahan kromatid ke masing-masing kutub) (Lapenna dan Giordano, 2009)

Jika terjadi sedikit saja kesalahan dalam siklus sel, maka pertumbuhan sel akan menjadi tidak normal dan dapat menyebabkan berbagai penyakit, misalnya adalah kanker yang sudah sangat sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Nah, bagaimana mekanisme normal sel agar dapat memastikan regulator-regulator siklus sel tersebut berfungsi dan berjalan dengan baik? Akan dipaparkan di tulisan berikutnya 😀

course notes · immunology

Pengenalan Antigen

berikut adalah ‘rangkuman’ kuliah immunologi FSI dengan Bu Ediati Sasmito 😉

 

Perbedaan imunogen, antigen, dan hapten?

Imunogen adalah substansi yang menginduksi respon imun spesifik, humoral, seluler, atau keduanya. Setelah diolah oleh Antigen Presenting Cell (APC), maka imunogen akan pecah menjadi antigen yang dapat bereaksi dengan produk respon imun spesifik. Sementara hapten berukuran lebih kecil dari antigen. Karena ukurannya yang kecil itulah, maka hapten tidak imunogenik. Akan tetapi, bila digabungkan dengan suatu molekul pembawa, maka gabungan tersebut dapat menginduksi respon imun.

 

Apakah epitop?

Epitop adalah bagian dari antigen yang dapat mengikat antibody. Suatu imunogen paling sedikit memiliki 2 epitop per molekul untuk menstimulasi terjadinya respon antibody. Hal ini dikarenakan antibody memiliki 2 ‘tangan’ untuk mengikat antigen.

 

Antigen eksogenus?

Imunogen (misalnya debu, bakteri) masuk dalam tubuh dan akan ditelan oleh dendritic cell (DC) kemudian dipotong-potong menggunakan enzim proteolitik. Pecahan imunogen ini akan menjadi antigen. DC tersebut kemudian bermigrasi melalui sinyal kemotektik ke pembuluh limfe yang kaya dengan sel T. Dalam pembuluh limfe, DC akan mengenalkan antigen pada sel T, melalui MHC yang tersekpresi pada permukaan sel T. Antigen eksogenus biasanya diekspresikan pada MHC kelas II yang akan mengaktifkan sel T CD4+ (Thelper/Th).

(Catatan : sebelum mengenali antigen, sel T harus berkolaborasi dulu dengan MHC, MHC kelas I dengan sel T CD8/sitotoksik dan MHC kelas II dengan sel T CD4/helper)

 

Antigen endogenus?

Biasa diproduksi oleh virus yang bereplikasi di dalam sel hospes. Berbeda dengan antigen eksogenus yang menggunakan DC untuk mengenalkannya pada sel T, antigen endogen tidak memerlukan DC. Sel hospes menggunakan enzim untuk mendigesti protein viral dan mengenalkan hasil digesti pada MHC kelas I (sel T CD8+/sitotoksik)

 

Faktor apa yang mempengaruhi imunogenisitas?

a.       Kontribusi imunogen

  1. Keterasingan : hanya molekul non-self/asing dari tubuh yang bersifat imunogenik.
  2. Ukuran            : Semakin besar molekul, semakin imunogenik
  3. Komposisi kimiawi : makin kompleks suatu substansi, makin imunogenik
  4. Sifat fisika    : Antigen partikel (antigen yang menempel di sel) lebih imunogenik daripada antigen larut (antigen yang masuk lewat sirkulasi darah)
  5. Degradasi : umumnya antigen yang mudah didegradasi lebih imunogenik. Karena jika mudah didegradasi, mudah dikenali oleh APC dan mudah dikenali oleh sel T.

b.      Kontribusi system biologis hospes

1. Faktor genetic : respon imun yang ditimbulkan tergantung pada spesies dan gen hospes

2. Umur            : semakin muda/tua, respon imun berkurang

c.       Cara Pemberian (dalam hal imunisasi)

  1. Dosis             : harus sesuai dosis, jika di bawah/atas maka tidak optimal
  2. Rute              : subkutan lebih baik daripada intravena atau oral

 

Adjuvant     : jika menggunakan adjuvant, maka akan meningkatkan respon imun yang terjadi

 

 

Terbuat dari apakah imunogen?

1. Protein

Penyusun imunogen terbanyak dan paling baik. Terdapat dalam bentuk protein murni, glikoprotein, atau lipoprotein.

2. Polisakarida

Dalam bentuk polisakarida murni atau lipopolisakarida. Imunogen yang baik

3. Asam nukleat

Merupakan imunogen yang tidak baik. Menjadi imunogen jika dalam bentuk untai tunggal atau kompleks dengan protein.

4. Lipid

Umumnya hapten dan non-immunogenik

 

Macam-Macam Antigen diliihat dari keterkaitannya dengan sel T

a. Antigen T-independen

Adalah antigen yang langsung dapat menstimulasi sel B untuk memproduksi antibody (tidak butuh sel T). Umumnya polisakarida termasuk jenis ini. Sifat-sifatnya :

1. Struktur polimerik

2. Mengaktivasi sel B poliklonal

 

3. Resisten terhadap degradasi

 

4. Bentuk epitop sama

 

b. Antigen T-dependent

Tidak dapat menstimulasi produksi antibody tanpa bantuan sel T. Dikarakterisasi dengan beberapa epitop yang berbeda.

course notes

Teknologi Fermentasi (Pendahuluan)

Curcol dulu, saya masuk kuliah ini baru 2 x dalam setengah semester, aaaaaaaaa X(
So I rewrite it! Bukan, bukan catatan kuliah saya tentu saja, tapi ringkesan handout kuliah ehehe ;p. Asing banget rasanya .__.
So, kita semua pasti dah pernah menggunakan produk hasil fermentasi. Makan tape, makan roti, makan brem, pake alkohol, bahkan dalam tubuh kita juga ada proses fermentasi. Menurut ahli biokimia, fermentasi adalah suatu proses pembentukan energi melalui katabolisme senyawa organik. Sedangkan menurut ahli mikrobiologi, fermentasi adalah proses pemanfaatan mikroba untuk menghasilkan produk. Tapi ternyata, gag selamanya proses fermentasi itu membutuhkan mikroba. Buchner (1897), membuktikan bahwa suatu proses fermentasi bisa terjadi hanya dengan adanya aktivitas enzim (fermentasi tanpa sel hidup)
Tujuan fermentasi yang digunakan dewasa ini, termasuk dalam dunia kefarmasian adalah :
1. Memproduksi sel mikroba atau biomassa
2. Memproduksi enzim
3. Memproduksi metabolit primer dan sekunder
4. Proses transformasi atau modifikasi senyawa yang ditambahkan secara eksternal
1. Produksi biomassa
yang telah dimanfaatkan secara luas adalah produksi ragi roti dan protein sel tunggal. Protein sel tunggal memiliki kelebihan, yaitu :
– mikroba cepat tumbuh dengan hasil yang tinggi
– kandungan protein mikroba tinggi
– protein mikroba tertentu mengandung semua asam amino esensial
– medium fermentasi murah
Mikroorganisme yang umum digunakan sebagai protein sel tunggal, antara lain algaChlorella, Spirulina, dan Scenedesmus; dari khamir Candida utylis; dari kapang berfilamen Fusarium gramineaum; maupun dari bakteri
2. Produksi enzim
Produktivitas mikroba dalam menghasilkan enzim dapat ditingkatkan dengan mudah dibandingkan dalam tanaman dan hewan. Telah banyak enzim yang dihasilkan melalui fermentasi, misalnya amilase, protease, pektinase.
3. Metabolit Primer dan Sekunder
produksi metabolit primer dan sekunder ini terkait langsung dengan siklus hidup (kurva pertumbuhan) mikroba dalam sistem tertutup seperti di bawah ini.
terlihat ada 4 fase penting dalam daur hidup mikroba. Lag phase atau fase adaptasi, merupakan fase dimana mikroba masih menyesuaikan diri dengan lingkungannya, misalnya ketika inokulum baru saja dipindahkan ke media baru. Pada fase ini tidak terligat adanya pertumbuhan mikroba, dan nutrisi (konstituen makro dan mikro) media sangat mempengaruhi lama fase lag ini. Semakin sesuai media dengan mikroba, semakin cepat fase lag. Ini yang dikehendaki oleh para fermentor, jadi fermentor harus tahu mikrobanya suka apa 🙂
Yang kedua adalah fase log, dimana kecepatan pertumbuhan sel secara bertahap naik pada waktu yang konstan dan terjadi kecepatan maksimum pertumbuhan sel. Selama fase log, komposisi makromolekul sel tetap konstan. Produk yang dikeluarkan dalam fase log ini antara lain asam amino, nukleotida, protein, lipid, karbohidrat (metabolit primer). Pengeluaran metabolit primer ini terjadi karena metabolit primer itulah yang digunakan untuk tumbuh selama fase log. Fase log disebut juga trophophase.
Fase ketiga adalah fase stationer/idiophase, dimana semua sel berhenti membelah diri atau bila sel hidup dan sel mati mengalami keseimbangan. Beberapa mikroba menghasilkan metabolit sekunder  pada fase ini, dimana metabolit sekunder tersebut tidak digunakan untuk metabolisme pertumbuhan mikroba penghasilnya. Banyak di antara metabolit sekunder yang memiliki aktivitas biologis misalnya antimikroba, penghambat enzim spesifik, dll. Setelah fase stationer, lalu fase kematian.
Nah, untuk memproduksi metabolit primer atau sekunder, fermentor perlu tahu berapa lama dan bentuk kurva pertumbuhan mikroba yang digunakan, sehingga dapat diketahui kapan waktu yang tepat untuk mengisolasi metabolit tersebut.
Setelah tahu tujuan fermentasi, nah apa saja sih komponen proses fermentasi?
1. Formulasi Media dari mulai media perkembangbiakan mikroba sampai tahap produksi
2. Sterilisasi media dan alat  mengingat fermentasi hampir semua menggunakan mikroba, harus selalu aseptis!
3. produksi biakan aktida dan murni dalam jumlah cukup untuk produksi
4. pertumbuhan organisme dalam media produksi dalam kondisi optimal untuk pembentukan produk
5. ekstraksi produk dan pemurnian
6. penanganan limbah produksi