books · chemoterapy · drug

The Demon Under the Microscope [Book Review]

Thomas Hager wrote the biography of sulfa drugs in a novelette-like story, which is amazing! There are inspirations and tragic stories in the way of searching the cure for infections, the great maladies haunting human lives for centuries. I think this book should be a mandatory reading for anyone interested in medical and drug development, as this sulfa drugs were the first drug that confirmed the possibility of a ‘magic bullet’ (specific drug) for a disease (in this case, infection).

Sulfa-class drugs were the first antibiotic (even before the famous penicillin) widely used to treat various infections, from the infection of childbirth (which could kill more than 50% of mothers giving birth during its epidemic) to the war-related infections during WWII. Sulfa is also the drug that underlies the principle of pharmacology and toxicity tests before a drug can be launched to the market. And thanks to sulfa that the FDA gained its position as the ‘powerful’ drug regulatory agency nowadays. Alas, almost all of sulfa’s inventors suffered from tragic fate during WWII, despite the fact that they were the most meritorious people who ‘saved’ a lot of people during WWII.

________________________________________________________________

And in this blog, I want to go into a more detail story about this sulfa drugs.

Continue reading “The Demon Under the Microscope [Book Review]”

Advertisements
drug

Cegah penyalahgunaan obat dengan ‘safe medication disposal’

Di Amerika Serikat, drugstore merupakan tempat one stop shoping. Retail farmasi seperti Walgreen, CVS, Rite-Aid, dan Duane-Reade menyediakan tidak hanya obat-obatan, namun barang keperluan sehari-hari seperti makanan, kosmetik, alat rumah tangga, hingga jasa foto dan print foto. Kelengkapan tersebut menyebabkan retail farmasi lebih menyerupai sebuah convenience store. Saya sendiri sangat sering mampir drugstore tersebut untuk membeli keperluan harian. Kelengkapan dan lokasinya yang strategis dan tersebar luas menyebabkan drugstore menjadi pilihan orang-orang untuk mampir membeli barang. Namun selain drugstore ‘rasa’ convenience store, masih terdapat pula apotek-apotek konvensional.

 

Banyak hal unik yang saya temukan terkait dengan drugstore di sini. Salah satunya adalah keberadaan ‘safe medication disposal, yaitu kotak pembuangan obat-obatan yang sudah kadaluarsa atau tidak digunakan lagi. Masyarakat dapat membuang obat bebas maupun obat resep dalam bentuk padat ke dalam kotak ini. Namun, obat berbentuk cairan, inhaler, aerosol, jarum, dan obat ‘ilegal’ tidak boleh dibuang di kotak ini. Kotak pembuangan obat ini sudah terdapat di 500 gerai Walgreendi AS. Melalui program ini, Walgreen dapat mengumpulkan lebih dari 10 ton ‘sampah’ obat pada tahun 2016 (ref.) Selain Walgreen, retail farmasi lain juga menyediakan kotak pembuangan obat.

 

 

WhatsApp Image 2017-07-11 at 11.05.39 AM
Kotak pembuangan obat di Walgreen

 

Pembuangan obat menjadi salah satu problem yang harus dituntaskan di masyarakat. Jika tidak, rawan sekali terjadi penyalahgunaan obat. Pada tahun 2013, terdapat 23% remaja yang melakukan penyalahgunaan obat. Obat-obatan tersebut mereka temukan di kotak obat di rumah mereka. Alasan yang menyebabkan penyalahgunaan tersebut antara lain untuk merasa rileks atau hanya ingin coba-coba (ref.). Selain itu, obat kadaluarsa juga berbahaya jika tidak dibuang dengan semestinya.

 

Gerakan ‘safe medication disposal’ ini dapat dimplentasikan di gerai-gerai apotek di Indonesia. Selain penyuluhan dan konseling oleh tenaga kesehatan (terutama apoteker), keberadaan kotak pembuangan obat ini dapat meningkatkan perhatian dan kewaspadaan masyarakat untuk membuang obat dengan benar.