review · tips

Dysmenorrhea, ‘Musuh’ Bulanan Wanita

Dysmenorrhea atau nyeri haid mungkin adalah penyakit yang paling sering dikeluhkan oleh wanita. Tidak semua  wanita merasakan gangguan bulanan ini, saya termasuk wanita yang bersyukur ini hehe. Tapi ada juga yang sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Apa sebenarnya penyebab dysmenorrhea ini dan upaya apa saja yang bisa meringankannya? Sudahkah kamu lakukan? ini adalah sedikit review dari artikel yang ditulis oleh French (2005).

Apa itu dysmenorrhea?

Dysmenorrhea adalah rasa sakit pada bagian panggul ketika akan menstruasi hingga tiga hari setelah mens dimulai. Pelepasan prostaglandin (zat penyebab radang) dan vasopressin saat menstruasi menyebabkan kontraksi rahim dan menimbulkan rasa sakit. Prevalensi dysmenorrhae cukup tinggi, apalagi pada remaja dan wanita muda. 15% remaja mengalami dysmenorrhae dan menjadi penyebab absen sekolah utama di US. Bagaimana dengan di Indonesia ya? Kalo dulu jaman saya sekolah sih, dysmenorrhae menjadi alasan untuk dapat menghuni UKS sekolah, hehe 🙂

Continue reading “Dysmenorrhea, ‘Musuh’ Bulanan Wanita”

Advertisements
publication · tips

Bagaimana cara memilih jurnal yang tepat untuk men-submit artikel penelitian?

Sebagai seorang anak s1, menulis artikel untuk dimuat di dalam suatu jurnal ilmiah, apalagi yang bertaraf internasional, merupakan hal yang cukup ‘sulit’. Alhamdulillah, ada kakak-kakak dan mentor yang bekerja sama dan mengarahkan adeknya yang masih cupu ini hehe. Nah, bagaimana sih memilih jurnal yang ‘pas’ untuk meng-apply hasil penelitian kita?

Untuk peneliti di bidang farmasi, bisa membuka link berikut :

http://www.doaj.org/doaj?func=subject&cpid=29&uiLanguage=en

dalam web itu, ada berbagai jurnal farmasi yang sudah terindeks di DOAJ. Pusing dengan banyaknya jurnal? Jangan patah harapan ^^v. Step memilih jurnalnya adalah sebagai berikut :

1. publication fee gratis,

tentu banyak yang pengennya gratis-an dong. Jadi perhatikan baik-baik keterangan di web jurnal tersebut, apakah gratis atau harus membayar untuk submit ke jurnal itu.

2. Lihat contoh paper dlm jurnal tersebut, cari contoh sesuai dengan penelitian teman-teman

Ini dapat digunakan untuk melihat apakah kira-kira artikel kita layak gag masuk dalam jurnal itu. Misalnya jika penelitian in vivo, apakah mengharuskan adanya ethical clearance agreement atau tidak.

 
3. Bandingkan manuskrip kita dengan manuskrip sejenis dlm jurnal tersebut

Ini juga dapat dilakukan untuk melihat kelayakan data yang kita miliki. Misalnya, berapa banyak parameter yang digunakan dalam paper tersebut, apakah data penelitian kita sudah sebanyak itu atau belum.

4. jurnal terindeks dalam pubmed, scopus, copernicus, google scholar atau indeks2 lainnya

Jika suatu jurnal terindeks dalam web-web pencari tersebut, akan lebih besar impact factornya. Tentu keinginan setiap peneliti adalah tulisannya dapat dimuat di jurnal dengan impact factor yang tinggi, karena hal ini memungkinkan artikl tersebut mudah dilacak dan dibaca oleh orang lain. Untuk anak s1, biasanya cari jurnal yang ‘selunak mungkin’ persyaratannya, tetapi sudah terindeks, itu sudah sangat baik.

Naaah, satu lagi petuah dari mentor : jangan gampang putus asa. Mentor saya punya banyak sekali publikasi ilmiah internasional, dan dia bilang beberapa artikel tersebut pernah ditolak 3-4x sampai akhirnya bisa dipublikasi. Wow! Oke, selamat menulis 😀

Tips ini didapat dari : mas Adam Hermawan, M.Sc., Apt. (ini blognya)