Life in Swiss · Uncategorized

Swiss National Museum in Zurich

Location: Museumstrasse 2, 8001 Zürich

Entrance fee: CHF 10,-

We could easily access this museum as it’s located just across Zurich main station. From outside, the museum looks like an old beautiful castle. Inside, advanced technology ‘colors’ museum’s collections. There are various collections here: the history of Switzerland, photos of the Alps, and modern contemporary arts. Personally, I really enjoyed the collections about the history of Switzerland.

 

Advertisements
Uncategorized

Resistensi antibiotik, separah apa sebenarnya?

Info baru tentang resistensi antibiotik ini saya dapatkan dari online course yang terdapat di futurelearn.com. Online course ini disediakan oleh Uppsala University dengan konten yang menurut saya cukup menarik dan mengajak pembacanya untuk berdiskusi di beberapa bagian. Silakan buka link ini jika tertarik untuk mengikuti online course-nya.

Screen Shot 2016-10-07 at 16.19.08.png
source

Pasti banyak di antara kita yang sudah mendengar mengenai resistensi antibiotik ini, baik dari tenaga kesehatan yang kita temui maupun dari media massa. Artikel terbaru dari media di Indonesia yang saya temukan adalah artikel di Kompas ini, yang mengungkapkan bahwa setiap tahun terdapat 135.000 kematian per tahun akibat resistensi antibiotik. Berdasarkan data Kemenkes RI yang diterbitkan dalam Buletin Jendela, Data dan Informasi, terdapat 98.692 kasus kanker serviks dan 61.682 kasus kanker payudara pada tahun 2013 (saya belum menemukan data kematian akibat kanker, maupun data tahun 2015). Hal ini menunjukkan bahwa resistensi antibiotik diam-diam menjadi penyakit yang lebih membahayakan dibanding dengan kanker.

Resistensi antibiotik ini adalah masalah sedunia. Berbagai negara telah melaporkan insidensi resistensi antibiotik di negara mereka yang bisa kita akses di web resistance map yang dikembangkan oleh Center for Disease Dynamics, Economics & Policy (CDDEP). Saya cuplikan gambar yang menunjukkan resistensi bakteri E.coli terhadap obat golongan fluoroquinolon (contoh obat: ciprofloxacin, sering dengar?). Di India, resistensi E.coli terhadap antibiotik ini mencapai 84%, di Thailand 45%, di Vietnam 50%, di Indonesia? Sayang sekali Indonesia belum memasukkan datanya ke ke database ini. Di website ini, kita juga bisa mengetahui tingkat resistensi bakteri lain terhadap berbagai jenis obat pula.

Screen Shot 2016-10-07 at 16.44.17.png
source

Alexander Fleming, sang penemu antibiotik, telah memprediksikan terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotik semenjak beliau menemukan obat ini. Saat ini, resistensi antibiotik sedang terjadi, bukan hanya sekedar prediksi lagi. Luka kena pisau, luka jatuh, maupun berbagai penyakit infeksi lain bisa saja membahayakan nyawa ketika bakteri yang masuk ke tubuh kita telah resisten terhadap berbagai antibiotik.

Screen Shot 2016-10-07 at 16.54.43.png
source

Sekali lagi, saya menulis ini juga untuk mengingatkan diri sendiri terhadap beberapa hal. Pertama, jangan ‘manja’ dengan antibiotik. Demam sedikit ke dokter lalu minta antibiotik, begitu pula dengan radang tenggorokan atau penyakit-penyakit yang sebenarnya masih dapat ‘diperangi’ oleh sistem imun kita. Beberapa waktu lalu saya mendapat kiriman video ini dari teman saya, yang menunjukkan bahwa pemberian antibiotik terhadap penyakit-penyakit tertentu bisa saja tidak membantu banyak penyembuhan pasien. Sebagai pasien, tanyakan pada dokter apakah kita benar-benar akan mendapatkan manfaat drastis dari antibiotik yang diresepkan? Atau bisa kah keadaan kita cukup diatasi dengan obat-obat yang membantu meredakan gejala infeksi?

Kedua, habiskan antibiotik yang diberikan walaupun keadaan tubuh kita sudah membaik (klise ya ini hehe).

Ketiga, jangan gunakan antibiotik ‘sisa’ orang lain (seharusnya sih tidak ada sisa kalau mengikuti hal yang di atas). Antibiotik bukan obat pusing atau obat batuk yang bisa menjadi obat bersama keluarga. Dosisnya sudah diatur dengan cermat untuk pemberian satu orang saja selama waktu tertentu.

Keempat, jangan beli antibiotik sembarangan!

Sekian cerita kali ini, silakan kalau ada teman-teman yang ingin menambahkan informasi.

 

 

 

 

Uncategorized

Apotek WIPA : Contoh Sukses Apotek “Patungan”

“Saya heran, kenapa sekarang apoteker-apoteker muda enggan mendirikan apotek?”

Pertanyaan Bu Endang, APA (Apoteker Penangung jawab Apotek) pembimbing PKPA kami, membuat sekitar 10 anak berpandangan. Pagi ini kami melakukan briefing perdana untuk memulai kegiatan PKPA (Praktek Kerja Profesi Apoteker) di Apotek WIPA. Pertanyaan tersebut, rata-rata memberikan jawaban yang sama dari kami.

Ingin Bu, tapi belum ada modal..”

Saya rencananya kerja di tempat lain dulu Bu, ngumpulin modal buat buka apotek..”

Hmm..saya dulu masuk farmasi bukan karena ingin buka apotek Bu, saya lebih tertarik ke BPOM atau penelitian..” *ini jawaban saya.haha*

Dan dimulailah cerita panjang Bu Endang bagaimana Apotek WIPA dapat berdiri hingga saat ini. Apotek WIPA ternyata berdiri bukan atas modal seseorang, tetapi modal “patungan” 9 orang apoteker pada tahun 1979. Untuk legalitasnya, 9 orang pemilik modal ini mendirikan CV WIPA, dimana Bu Endang yang saat itu merupakan apoteker termuda dan baru saja lulus kuliah, menjadi direksi dan APA apotek WIPA. Saat itu, untuk membuka apotek dibutuhkan modal 15 juta rupiah. Bentuk ‘patungan’-nya berupa saham prioritas dan non-prioritas. Semacam koperasi, saham prioritas adalah ‘urunan wajib’ sementara saham non-prioritas adalah ‘urunan sukarela’, yang kemudian juga akan berpengaruh kepada pembagian keuntungan apotek. Saham prioritas-nya sebesar 1 juta rupiah, yang saat itu setara dengan sebuah motor. Melalui perjuangan bersama dan keuletan, akhirnya apotek WIPA dapat bertahan hingga saat ini (>34 tahun). Hingga saat ini, ke-9 pemilik modal masih terus menginvestasikan dana di Apotek WIPA. Bahkan walaupun sudah ada yang meninggal, investasi tetap dilanjutkan oleh ahli warisnya. Manajemen yang dikelola terbuka dan bersifat kekeluargaan, dimana setiap tahun selalu ada rapat untuk membahas pengembangan apotek ke depannya serta pembagian keuntungan.

Continue reading “Apotek WIPA : Contoh Sukses Apotek “Patungan””

Uncategorized

Menjadi Probandus UKAI (Ujian Kompetensi Apoteker Indonesia)

Hello world! mari berbagi cerita :3

Kemarin Sabtu 14 Desember 2013, ada tonggak awal lahirnya sistem baru standardisasi profesi ke-apoteker-an Indonesia. Apa itu? Yap, telah dilaksanakan Try Out #1 UKAI (Ujian Kompetensi Apoteker Indonesia). Pada tahun 2013 ini, dirumuskan bahwa setiap apoteker yang menjalankan pekerjaan kefarmasian sesuai dengan PP 51 tahun 2009 harus memiliki  Sertifikat Kompetensi Profesi yang dikeluarkan oleh organisasi profesi (IAI). Sertifikat kompetensi tersebut berlaku selama 5 tahun, dan diperbaharui dengan mekanisme re-sertifikasi (melakukan kegiatan-kegiatan keprofesian dan dihitung bobot SKP-nya) atau dengan mengikuti UKAI jika syarat re-sertifikasi tidak terpenuhi.

Continue reading “Menjadi Probandus UKAI (Ujian Kompetensi Apoteker Indonesia)”

Uncategorized

Sekilas DLBS (Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences)

Dari sekian banyak industri farmasi di Indonesia, satu yang sangat menarik perhatian saya adalah DLBS. Kenapa? Karena RnD yang dilakukan banyak menggunakan bioteknologi, skrining aktivitas biologi tanaman, atau bahkan menggunakan kultur sel; bidang yang sedikit saya tekuni ketika S1 hehe. Kedua, karena pernah ketemu dengan orang-orang DLBS waktu seminar, dan mbak-mbak penelitinya terlihat chic, fashionable, dan menarik >:D . Walau pekerjaan penelitian katanya kayak ‘romusha’, tapi ketika tampil tetep harus elegan dan menarik dong ya.. haha. So, ini sedikit catetan tentang DLBS 🙂

Continue reading “Sekilas DLBS (Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences)”